Batu Dorphall, Bukti Teknologi Modern Leluhur

Batu Dorphall, Bukti Teknologi Modern Leluhur
batu dorphall yang terbelah di daerah rawan gempa vulkanik

SCIENCE - Berasal darimana batu ini masih tanda tanya besar, produk teknologi kuno buatan manusia atau fenomena alam, semua masih misteri. Batu tersebut dinamai 'dorphall', salah satu literasi menyebut keberadaannya terkoneksi dengan Lemuria, yaitu daratan yang hilang, dan diduga, letaknya di samudera Hindia. 

Nama Lemuria berasal dari seorang ahli zoologi Phillip Lutley Sclater, yang hidup tahun 1829 hingga 1913, dalam artikel Mamalia dari Madagaskar berjudul 'The Quarterly Journal of Science'. Lemuria kemudian memasuki leksikon okultisme melalui karya okultis Rusia, Helena Petrovna Blavatsky, yang hidup tahun 1831 hingga 1891.

Ada literasi yang menyebut, Kumari Kandam ada hubungannya dengan Lemuria. Kumari Kandam adalah kerajaan yang tenggelam, dalam 'Cilappatikaram' dan 'Manimekalai', dideskripsikan tenggelamnya kota Puhar. 

Tak cuma itu, pendapat lain meyakini benua Atlantis ada dibalik pembuatan benda-benda berteknologi modern di masa lalu, salah satunya dorphall. Bahkan beberapa pengamat yang mengklaim, benua Atlantis terletak di Indonesia, benar tidaknya hal itu, tergantung percaya atau tidak.

Berbentuk bola, batu ini tak lolos dari pendapat Ufolog yang menyatakan ada hubungan alien atau makhluk cerdas di luar bumi dengan manusia pada masa lalu, terkait proses pembuatannya. 

Bisa dikatakan masuk akal, bila ada pendapat yang menghubungkannya dengan alien, lantaran dalam proses pembuatannya, pada masa lalu menggunakan peralatan non logam, dan mustahil bisa membentuk batu yang terbuat dari gabro menjadi bola. 

Uniknya, menurut geologis maupun arkeologis, tidak ada bukti menunjukkan bahwa gabro, bahan yang digunakan untuk membuat batu tersebut, dapat dilunakkan.

Gabro merupakan jenis batuan beku intrusif yang memiliki warna gelap dan tersusun atas kristal mineral kasar. Sekilas, batuan gabro ini mirip sekali dengan batu basalt, karena komposisi mineral pembentukannya yang serupa. 

Walaupun suara mayoritas mengatakan kebingungan, terkait kegunaan atau fungsi dorphall dibuat, ada yang berpendapat tujuan pembuatannya untuk mengurangi atau menghambat gempa bumi. Hal itu mengacu keberadaan dorphall yang berlokasi di daerah rawan gempa. 

Bagian dalam dorphall, terbuat dari bebatuan yang memiliki daya magnet, sekaligus memiliki kekuatan untuk melemahkan atau menahan gelombang seismik, dan efek destruktif gempa. Selain itu, salah satu teori menyebut, dorphall bermanfaat membantu akselerasi tubuh manusia yang ada disekitarnya.

Yang menarik, gelombang dorphal yang dinamai 'erselna', mampu mengacak sistem komunikasi maupun radar. Dari gelombang itulah, muncul anomali magnetik yang mempengaruhi gelombang dari komunikasi maupun radar, sehingga menjadi distorsi bahkan kadang menjadi mati. 

Ersenal sendiri, berfungsi memadatkan maupun merapatkan molekular tanah. Bentuk bulat dorphall, membuat ersenal tersebar ke berbagai arah, dalam artian tidak tertuju pada beberapa arah, tetapi terpancarkan ke semua arah.

Dorphall banyak ditemukan di Nusantara, khususnya daerah gunung berapi aktif, dan dipastikan batu tersebut dibuat makhluk cerdas yang hidup pada masa lalu. Bentuk bulatan batu tersebut, bisa dikatakan mendekati sempurna, dalam artian ukuran diameternya hampir sama.

Berdasarkan kacamata sains, dorphall dibuat melalui teknologi bernama 'ellemanphatera', yaitu mencampurkan unsur logam 'kraiman' dengan unsur batuan, agar tidak menjadi karat atau korosi. 

Merujuk pada teknologi modern dorphall di masa lalu, otomatis mematahkan pendapat penyematan peradaban primitif. Terbukti, pendapat itu salah besar, dan ternyata leluhur Nusantara sudah mengenal sains modern, baik teori maupun praktek. (dodik)