Dibalik Catatan Perjalanan Ke Barat, Biksu Tong dan Sun Go Kong

Dibalik Catatan Perjalanan Ke Barat, Biksu Tong dan Sun Go Kong
screenshoot film journey to the west

HISTORI - Di tahun 90an, muncul serial tv yang menarik perhatian saat itu, tak peduli tua, muda hingga anak-anak, mereka meluangkan waktu nonton di layar kaca selama 1 jam. Film tersebut bukan berasal dari dalam negeri, tapi luar negeri, dan berlatarbelakang negeri Cina tempo dulu.

Film itu menceritakan Biksu Tong Sam Chong bersama Sun Go Kong, Cu Pat Kay dan Wu Ching, yang melakukan perjalanan ke barat untuk mengambil kitab suci pada masa pemerintahan Dinasti Tang. 

Mereka berjalan melewati 81 rintangan, dan 14 musim yang bisa ditafsirkan berdurasi 4 tahun lebih, apabila dihitung 3 musim per tahun, serta 7 tahun, apabila dihitung 2 musim per tahun

Kisah itu ditulis Wu Cheng En sekitar tahun 1500 hingga 1582 Masehi, yang mengadopsi kisah nyata perjalanan biksu Xuan Zang, dan karya sastranya terkenal pada masa Dinasti Ming yang berkuasa tahun 1368 hingga 1644 Masehi. Sastra karangan Wu mulai diterbitkan secara luas tahun 1592 atau 10 tahun setelah ia meninggal.

Tulisan tersebut sebenarnya bersumber dari catatan perjalanan ke barat atau "journey to the west" yang mulai ditulis tahun 626 Masehi, dan catatan ini berbeda dengan sastra yang ditulis Wu di abad 16.

Diakhir catatan, Xuan sampai di barat, tepatnya di Nalanda, India, tahun 635 Masehi, sekaligus mengakhiri catatan perjalanannya selama 9 tahun. Selama perjalanan, ia melewati 139 kerajaan kecil dan singgah sementara. 

Catatan Xuan tidak hanya mengisahkan perjalanannya, ia juga menulis situasi maupun kondisi politik, demografi, geografi dan budaya kerajaan yang dilewatinya. Dari catatan itulah, ada penambahan literasi akurat, terkait sejarah jalur sutra di masa lalu.

Menurut sastra karangan Wu, ada 3 tokoh yang menyertai biksu Tong selama perjalanan menuju barat, namun ketiganya adalah fiksi berdasarkan tulisan yang menceritakan mimpi biksu Xuan.

Visualisasi perilaku Sun Go Kong yang berwujud kera, kemungkinan diadaptasi dari sosok Hanoman. Sedangkan Cu Pat Kay, kemungkinan diadopsi dari cerita rakyat yang berkembang di Cina. Demikian juga Wu Ching, diduga berlatarbelakang kebiasaan buruk orang-orang pada masa sastra ini ditulis.

Sun Go Kong digambarkan sakti, bersikap keras dan bertingkah nakal, serta Cu Pat Kay digambarkan sosok penyair, bertindak ceroboh dan penyuka wanita, sedangkan Wu Ching digambarkan sosok pemabuk, ragu bertindak dan lugu. Ketiganya tidak sesuai gambaran mimpi biksu Xuan yang ditulis dalam catatannya.

Dalam sastranya, Wu membagi berbagai tahapan kisah perjalanan tersebut, dan keseluruhan ada 100 bab yang ditulisnya. Tahapan kisah itu, yang pertama mengisahkan historis Biksu Tong, Sun Go Kong, Cu Pat Kay dan Wu Ching, tahap kedua mengisahkan penugasan mencari kitab suci, tahap ketiga menceritakan pertemuan Biksu Tong, Sun Go Kong, Cu Pat Kay dan Wu Ching, dan seterusnya.

Khusus di Indonesia, pengaruh film tersebut cukup berefek, salah satunya efek lagu rap. Lagu jenis tersebut menjadi opening maupun closing film, dan menjadi hafalan anak-anak era 90an.

Tak cuma itu, kata mutiara "isi adalah kosong, kosong adalah isi", menjadi trending pada masanya, walaupun saat itu belum ada yang namanya medsos beserta tagarnya. Padahal, dalam catatan asli Xuan, justru kata itulah yang menjadi dasar pokok menuntaskan perjalanan menuju India.

Yang menarik, mantra Avalokitesvara Bodhisattva dalam catatan Xuan, sama persis dengan yang ditulis Wu. Bedanya, Biksu Tong membacanya untuk mengendalikan atau mengontrol Sun Go Kong, sedangkan Xuan membacanya agar terhindar dari bahaya selama perjalanan.

Jubah yang dikenakan maupun yang disimpan Biksu Tong, sebenarnya mengandung unsur filosofi, namun ketika sastra karangan Wu masuk ke dunia perfilman, jarang ada yang menjelaskannya. Demikian juga kuda putih bernama Pa Ma, binatang jelmaan ini hanya dinaiki oleh Biksu Tong pada saat tertentu, tetapi jarang ada yang mengartikan filosofinya.

Sifat dan sikap bijaksana Biksu Tong, selaras dengan perkataan yang diucapkannya, namun lagi-lagi ketika masuk perfilman, hanya secuil saja yang ditayangkan. Padahal, sebagaimana tulisan Xuan dalam catatannya, banyak filosofi yang ia tulis selama perjalanan, yang kemudian ditulis ulang Wu, dan divisualisasikan ke sosok Biksu Tong.

Apapun analisa tentang sastra karangan Wu maupun catatan asli Xuan, semua tertuju pada satu pandangan, apabila ingin sukses meraih apa yang diinginkan, sudah pasti ada hambatan atau rintangan. Sama halnya Xuan yang berhasil tiba di Nalanda, maupun Biksu Tong yang sukses mengambil kitab suci, keduanya harus melewati berbagai permasalahan, namun mereka pantang menyerah dan tetap semangat. (dodik)