Dito Blusukan Kampung Inggris dan Percepat Izin Usaha Bagi Investor

Dito Blusukan Kampung Inggris dan Percepat Izin Usaha Bagi Investor
Mas Dito Calon Bupati Kediri melakukan ledang, terlihat antusias masyarakat menerima atribut yang dibagikan di sepanjang jalan Gajah Mada Pare menuju Corah

KEDIRI - Jelang Pilkada serentak 2020 jatuh pada 9 Desember mendatang. Calon Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana akrab disapa Mas Dito kali ini blusukan ke Kampung Inggris Pare yang merupakan icon Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Jum'at (13/11/2020) siang.

Mas Dito setelah melakukan blusukan ada beberapa permasalahan pertama, Kampung Inggris ini memang perlu perhatian extra.  Mereka perlu domain atau website kampunginggris.co.id kalau saya tidak salah, nanti akan kita cek ke dinas terkait, benar tidaknya website tersebut.

"Kedua, terkait kampung Inggris ini perlu ada penataan ulang tentang RT/RW, karena banyak sekali daerah-daerah yang airnya tidak layak untuk digunakan masyarakat dan dampak jangka panjangnya sangat buruk sekali bagi manusia, hal ini yang perlu diperhatikan," ucap Mas Dito kepada awak media.

Setelah dari Kampung Inggris dilanjutkan ledang dengan membagikan atribut melewati Jalan Gajah Mada hingga Permandian Corah. Mas Dito mengatakan, terlihat antusias warga cukup baik dan positif, Namun saya pribadi tidak akan terlalu sering melakukan ledang.

"Dikarenakan, mengganggu lalu lintas dan saya perhatikan masyarakat banyak sekali yang masih belum menggunakan masker. Jadi sosialisasinya mungkin lebih kepada protokol kesehatan dibandingkan harus mengkampanyekan diri," terang Mas Dito.

Usai melakukan ledang, dilanjutkan diskusi bersama Paguyuban Pengolah Kayu. Salah satunya Indarto mengeluhkan kepada Mas Dito Calon Bupati Kediri terkait kesulitan mendapatkan ijin dari Pemerintah.

Indarto mengeluhkan pengurusan perizinan yang terlalu berbelit-belit dan waktunya terlalu lama. "Kita berharap kalau Mas Dito jadi memimpin Kediri bisa jauh lebih baik, supaya perizinan itu lebih cepat dan tanpa ada pengeluaran uang sama sekali,” keluh Indarto.

Mas Dito mendengarkan keluhan dari Paguyuban Pengolah Kayu. Mas Dito menegaskan, kami melakukan diskusi terkait perizinan usaha yang ada di Kabupaten Kediri ini.

Mereka mengeluhkan mengurus izin memakan sampai 5 bulan. Kalau masih polanya seperti ini, disaat Kabupaten Kediri punya Bandara dan Pemerintah Kabupaten Kediri bersiap-siap membuka investasi kepada seluruh investor yang akan masuk, maka tidak akan ada investor yang mau masuk.

"Jadi, ini harus diperbaiki dan harus dipangkas terkait izin usahanya supaya dipersingkat minimal 1 hari atau maksimal paling lama 1 minggu, harus jadi surat izinnya. Hal itu yang akan dilakukan, agar ada kegiatan dan ekonominya lebih menggeliat di Kabupaten Kediri," tegas Mas Dito.

Disingung terkait perkembangan BUMDes. Mas Dito menjelaskan, sebenarnya saya tidak mengarahkan BUMDes ini, untuk bekerjasama dengan pengusaha.

Namun, BUMDes harus bisa melihat potensi dan menggali di Desanya masing-masing.

Dicontohkan Mas Dito kalau memang di Desanya punya potensi di UMKM yang bagus maka bersinergi dengan BUMDes, kalau Desa memiliki potensi tempat wisata yang bagus bersinergi juga dengan BUMDes.

Artinya kalau dua hal tersebut bisa dilakukan BUMDes. Baru kita akan bicarakan ke tahapan berikutnya yaitu bersinergi dengan pengusaha.

"Jadi, saya tidak mau terlalu terburu-buru karena harus memantau BUMDes yang ada di 344 Desa/Kelurahan di Kabupaten Kediri terkait kinerja BUMDes di masing-masing Desa," ungkapnya.(Prijo)