Keris Mpu Gandring, Antara Konspirasi dan Misteri

Keris Mpu Gandring, Antara Konspirasi dan Misteri
ilustrasi keris Mpu Gandring

MISTERI - Salah satu benda yang bisa dikategorikan senjata tajam, dipastikan bukan berasal dari peradaban bangsa lain, dalam artian asli produk leluhur Nusantara, dan UNESCO secara resmi mengakuinya.

Bentuknya tidak simetris di bagian pangkal, bilah berkelok tapi sedikit lurus, memiliki pamor dilihat dari serat logam di helai bilah, dan dibuat berbagai bentuk. Di jaman dulu hingga sekarang, benda ini multi fungsi, bisa untuk perang, pelengkap sesajian, ageman busana dan koleksi bernilai historis.

Keris, mewarnai peradaban Nusantara, sekaligus masuk dalam catatan sejarah tempo dulu, dan salah satunya Keris Mpu Gandring. Menurut Kitab Pararaton, keris tersebut ikut andil dalam perjalanan Babad Singhasari, dan namanya melegenda sebagai keris pencabut nyawa.

Sang pembuat keris, adalah korban pertamanya, yaitu Mpu Gandring, dan keris itu dibuat karena request Ken Arok, yang juga menjadi korban dari keris ini. Menurut salah satu literasi, keris tersebut telah mencabut nyawa Mpu Gandring, Tunggul Ametung, Kebo Ijo, Ken Arok, Ki Pengalasan, Anusapati, sedangkan Tohjaya diragukan tewas akibat keganasan keris itu, dan Ken Dedes masih sebatas kemungkinan ikut jadi korban keris ini.

Diduga, keris ini dibuat Mpu Gandring di Desa Sangguran, yang tersohor sebagai "Pabrik Keris" di era Kerajaan Mataram, dan keris itu mengawali perjalanan kudeta berdarah, pasca terbunuhnya Tunggul Ametung ditangan Ken Arok.

Berawal dari "lirikan maut" Ken Arok ke Ken Dedes yang berstatus istri Tunggul Ametung, ditambah visual masa depan Lohgawe, yang menyatakan siapa yang memperistri Ken Dedes akan menjadi "King of King" di Tanah Jawa, munculah konspirasi. Namun, pendapat lain menyebut, sebelumnya Ken Dedes menikah dengan Tunggul Ametung karena terpaksa alias bukan atas dasar "suka sama suka". 

Atas informasi Bango Samparan, Ken Arok ditunjukkan lokasi pembuatan keris "best of best" di Lulumbang, tepatnya di kediaman Mpu Gandring. Informasi keberadaan pembuat keris terbaik tersebut bukan karena masifnya medsos, seperti facebook, youtube, twitter atau instagram, lantaran pada masa itu belum ada internet, apalagi google, melainkan terkenal menjadi jujugan orang-orang tertentu yang bertujuan berbeda-beda.

Saat negosiasi, Ken Arok mematok 5 bulan jatuh tempo, keris harus sudah jadi alias siap pakai, namun berbeda dengan Mpu Gandring, memperkirakan keris bisa selesai dalam tempo 12 bulan. Jatuh tempo yang tak ada hubungannya dengan perkreditan beserta suku bunganya maupun perbankan, tentunya bisa tarik ulur terkait penyelesaian pembuatan keris.

Bulan kelima setelahnya, Ken Arok mendatangi Mpu Gandring, padahal sebelumnya sudah terjadi MoU 12 bulan keris diselesaikan. Ternyata, keris benar-benar belum selesai, dan terjadi debat terbuka, ujungnya Mpu Gandring meregang nyawa oleh keris buatannya sendiri. 

Saat detik-detik terakhir kematian, Mpu Gandring melepaskan kutukannya, dan Ken Arok pasrah atas nasibnya, sekaligus berjanji mensejahterakan keturunan Mpu Gandring, sebagai penyesalan kesalahannya.

Selanjutnya, Ken Arok menemui Kebo Ijo, dan memamerkan keris miliknya. Kebo Ijo tertarik keris produk lokal kualitas dunia tersebut, dan meminjamnya. 

Sifat suka pamer, menjadi bumerang bagi Kebo Ijo, karena keris tersebut identik milik Kebo Ijo, bukan Ken Arok. Keris itu dipamerkan kepada orang-orang di teritorial istana Tumapel, dan sudah pasti tidak ada yang tahu, sebenarnya keris itu bukan milik Kebo Ijo.

Kudeta terjadi, Ken Arok membunuh Tunggul Ametung, namun justru Kebo Ijo yang didakwa bersalah, lantaran keris yang menancap identik miliknya. Tanpa peradilan sesuai hukum maupun undang-undang yang tercantum dalam beberapa pasal atau ayat, Kebo Ijo langsung di eksekusi.

Hakim sekelas Bao Cheng atau terkenal disebut Hakim Bao atau Justice Bao, yang konon mampu menyelesaikan segala permasalahan hukum, kemungkinan tak bakal bisa berbuat apa-apa, karena kejadian berlangsung cepat tanpa proses penyelidikan maupun penyidikan.

Akhirnya, Kebo Ijo menyusul Tunggul Ametung, usai ia tewas tertusuk Keris Mpu Gandring. Atas penyelasan kesalahan yang dilakukannya, Ken Arok berjanji mensejahterakan Kebo Randi, putra Kebo Ijo.

Sepeninggal Tunggul Ametung dan Kebo Ijo, agenda pemisahan diri Tumapel dari kekuasaan Kerajaan Khadiri, mulai berjalan seiring takdir dan kodrat munculnya era baru Kerajaan Singhasari di masa berikutnya.

Ken Arok berhasil meraih impiannya, yaitu memperistri Ken Dedes, yang konon menurut gambaran zaman sekarang, mirip artis sinetron, ada juga yang menyebut sebanding dengan artis Holywood maupun Bolywood, dan ada juga yang menyebut kecantikannya di atas rata-rata artis korea.

Diduga, berbagai tragedi berdarah yang mengiringi perjalanan keris Mpu Gandring, erat kaitannya perebutan kekuasaan keturunan Ken Arok versus keturunan Tunggul Ametung.

Dalam manuskrip lempengan logam Prasasti Mula Malurung, bertarikh 1177 Saka atau 1255 Masehi, yang diterbitkan Kertanagara atas instruksi Wisnuwardhana, keturunan Ken Arok adalah Mahisa Wunga Teleng atau disebut Bhatara Parameswara, Agni Bhaya atau disebut Gunung Bhaya, dan Tohjaya, yang akhirnya disingkirkan Rangga Wuni dan Mahisa Campaka.

Tepat di tahun 1144 Saka atau 1222 Masehi, terjadi perang Tumapel di bawah komando Ken Arok versus Khadiri di bawah komando Kertajaya, dan perang tersebut bisa dikatakan perbuatan makar, karena saat itu wilayah Tumapel berada di bawah kekuasaan Khadiri. Ujungnya, Tumapel berhasil meraih kedaulatannya, sekaligus berbalik menguasai wilayah Khadiri, usai Ken Arok membawa kabar kemenangan kepada rakyatnya.

Di tahun 1149 Saka atau 1227 Masehi, Ken Arok mati oleh keris Mpu Gandring, dan Anusapati naik tahta. Selanjutnya kekuasaan Singhasari di pecah, wilayah Khadiri di bawah pemerintahan Mahisa Wunga Teleng, dan Singhasari di bawah pemerintahan Anusapati.

Keganasan keris Mpu Gandring dihentikan Wisnuwardhana atau bergelar Sri Jayawisnuwarddhana Sang Mapanji Seminingrat Sri Sakala Kalana Kulama Dhumardana Kamaleksana yang berkuasa atas Singhasari di tahun 1170 Saka atau 1248 Masehi hingga 1190 Saka atau 1268 Masehi. Keris tersebut dibuang di Gunung Kelud, sekaligus pemutus rantai kutukan Mpu Gandring yang telah mencabut nyawa para elit Tumapel atau Singhasari.

Diduga, gunung tersebut dipilih berdasarkan berbagai pertimbangan, salah satunya historis yang agak bergenre mitos. Di masa lalu, Jawadwipa dalam kondisi kacau, baik di daratan maupun di lautan, kondisinya tidak stabil. 

Lalu turunlah Bhatara Guru, Mahameru yang ada di Jambhudwipa dipindahkan ke Jawadwipa, dan saat proses pemindahan, bagian Mahameru berguguran dan membentuk gunung sepanjang pulau Jawa, salah satunya Kampud atau Kelud.

Selain itu, ada historis lainnya, yaitu Mahesa Suro dan Lembu Suro, yang terkorelasi dengan kisah Dewi Kilisuci. Dari kisah inilah, muncul sumpah dari Lembu Suro yang melegenda. (dodik)