Ungkap Cerita 12 Batu Gong Di Pulau Sapudi

Ungkap Cerita 12 Batu Gong Di Pulau Sapudi
12 Batu Gong Di Dusun Toggung, Makam Dewi Ayu Sarimbi (Ju' Degung) dan Makam Raden Ayu Randina (Istri Sunan Belingi)

SUMENEP - Pulau Sapudi yang terdiri dari dua Kecamatan Yaitu Gayam dan Nonggunong, di dalamnya ada dua penembahan yang dikeramatkan oleh masyarakat Pulau Sapudi, Yaitu Penembahan Agung Balingi dan Penembahan Adi Poday. 

Tidak hany itu, banyak bukti prasasti atau artefak peninggalan jaman dahulu yang sampai saat ini masih dirawat dan dipercaya sebagai sesuatu yang mistis.

Salah satunya adalah, 12 Batu  yang menyerupai alat gamelan  (Gong), Batu Gong tersebut terletak di Dusun Toggung, Desa  Pancor, Kecamatan Gayam. 

Salah satu warga yang gemar berkelana dalam dunia mistis, Soeharto, menyambung dari cerita para leluhurnya terdahulu, menyampaikan terkait dengan awal mula adanya batu gong tersebut. 

Ia bercerita bahwa awal mula batu gong adalah saat masuknya Raja Lembu Iyang ke Sapudi sekitar abad ke-13.  Pada waktu itu, Raja Lembu Iyang bermaksud untuk mengitari Pualu Sapudi dengan menggunakan kerbau.  Sesampai di Desa Gendang (Nama desa saat ini) Kerbau tersebut berlari-lari, dan oleh Raja Lembu Iyang dikuti sampai menuju ke Palanggeren, salah satu Keramat di Bukit Ro'korok (Ju' Renjani).

Ditempat itu, Ratu  Lembu Iyang berkata pada Ju' Renjani tentang maksud dan tujuannya kesana yaitu untuk menemui wanita cantik yang berada di timurnya Palanggheren,  pada saat itu hanya ada satu wanita cantik yang muncul di permukan, Yaitu Dewi Ayu Sarimbi (Read : Wanita Tercantik di Dusun Toggung).

Setelah bertemu, Raden Lembu Iyang tertarik dan mencoba untuk merayu Dewi Ayu Sarimbi untuk menjadikan permaisurinya, Namun menurutnya, justru wanita cantik itu menolak.

"Raden Ayu Sarimbi (Panggilan Ju' Degung) adalah salah satu wanita tercantik yang pernah ada di Pulau Sapudi, dari saking beningnya kulit wanita cantik itu, di saat makan serta meminum, air dan makannya tampak terlihat dari luar," Tuturnya.

Selanjutnya, Karena cinta Raden Lembu Iyang ditolak oleh Dewi Ayu Sarimbi, ia kembali  pulang ke daerah sumber sari (Daerah Keraton), dan ia mengajak kerabatnya untuk membantu mendapatkan hati  dan cintanya Dewi Ayu Sarimbi.

Pada kesempatan rayuan yang kedua kalinya, Ayu Sarimbi tetap tidak mau pada Lembu Iyang. 
Kemudian pada kesempatan itu, Lembu Iyang meminta kepada semua kerabatnya untuk membawa alat gamelan ke Pulau Sapudi, untuk menghibur Raden Ayu Sarimbi dan memikat hatinya dengan permainan gamelan tersebut. 

Nahasnya, Hati Ayu Sarimbi tidak berkedip sedikitipun melihat permainan gamelan tersebut. 

Pada Akhirnya, Soeharto menyebutkan bahwa akibat dari pada itu, Dewi Ayu Sarimbi dikutuk oleh Ratu Lembu Iyang untuk menjaga gamelan tersebut (Read: Batu Gong), dan ia tidak bisa menikah dengan siapapun selama masa hidupnya. 

Dari kisah inilah Batu Gong tersebut menjadi nama duusun  yang saat ini disebut dengan Dusun Toggung.

Kutukan Ratu Lembu Iyang tersebut, manjadi sesuatu yang mistis untuk Dusun Toggung, karena menurut cerita yang di tuturkan  oleh Soeharto, ia menyebutkan bahwa sampai sekarang jika ada wanita yang dilahirkan dengan wajah sangat cantik di Dusun Toggung,  maka di pastikan wanita tersebut tidak akan pernah menikah dan akan pendek umurnya. 

"Sesuatu yang seperti ini terkenal mistis dan sangat dipercaya oleh masyarakat Toggung," Katanya. 

Kemudian, ia juga bercerita bahwa pada zaman dahulu, penghuni di Daerah Toggung hanyalah ada beberapa tokoh yang bercokol, mereka adalah Ju' Landuruan, Ju' Tiyas, Raden Ayu Randina (Istri Sunan Belingi), Dewi Ayu Sarimbi (Ju' Degung). 

Dewi Ayu Sarimbi merupakan putri bungsu bersaudara dari Istri Agung Belingi  yaitu Raden Ayu Randina. 

Keberadan mereka pada zaman dahulu sudah memluk agama islam, sementara Raja Lembu Iyang adalah pendatang yang beragama Hindu, yang mencoba untuk mendapatkan hati wanita tercantik tersebut. 

Dari cerita tersebut, keberadaan Dusun Toggung  bermula dari sejarah tentang Dewi Ayu Sarimbi yang disabdo oleh Raja Lembu Iyang untuk menjaga Gong - Gong (Gamelan) kepunyaan Raja tersebut. 

Pada zaman dahulu, Batu Gong tersebut juga terkenal dengan bunyi misteriusnya setiap malam Jumat Manis. Namun, Menurut Soeharto seiring perkembangan jaman, pada saat penjajahan belanda masuk ke tanah Sapudi,  Batu Gong sudah tidak terdengar bunyinya lagi. 

"Bahkan satu tahun sekalipun, batu gong sudah tidak terdengar lagi bunyinya, " Pungkasnya. (QQ)