Ponpes Nurul Iman Sukses Didik Santri dengan Metode Usmani

Ponpes Nurul Iman Sukses Didik Santri dengan Metode Usmani
Pondok Pesantren Nurul Iman Garum

BLITAR - Mungkin bagi masyarakat awam belum banyak yang mengenal metode pembelajaran Utsmani dan apakah Utsmani itu sendiri banyak yang belum tahu. Di Ponpes Nurul Iman Jl. Raya Garum No. 41 Garum, Blitar kita akan lebih mengenal apa istilah tersebut.

Menurut penuturan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Iman, KH, Saiful Bahri, Metode Utsmani adalah metode agar siswa bisa dengan mudah dan senang dalam mengenal huruf-huruf hijaiyah, tahsin serta tajwidnya. Sedangkan pondoknya ini didirikan berbasis Al qur'an, pembelajaran kitab-kitab salafiah dan pendidikan formal.

"Untuk pembelajaran Madrasah Diniyah Salafiah kita ciptakan Buku materi Diniyah Usman dan Alhamdulillah para santri enjoi dalam belajar. Sedangkan untuk formalnya sudah mampu meraih emas untuk olimpide IPA tingkat Nasional dan prestasi Nasional Lainnya," ujar alumni Ponpes Mangunsari Nganjuk itu, Rabu, (30/09/2020).

Menurutnya, ini dilakukan Untuk mencetak generasi muda yang berakhlakul Karimah, ulama yang ilmuwan dan ilmuwan yang ulama. Begitulah suasana kebatinan yang mendasari Kyai Haji Saiful Bakhri, mendirikan Pondok Pesantren Nurul Iman, yang akhirnya di jadikan moto lembaga pendidikan di ponpesnya.

Ponpes Nurul Iman mulai dirintis pendiriannya tahun 1994, kemudian untuk pendidikan formal tahun 2013. Dengan letak lokasi yang strategis  di pusat kecamatan Garum Blitar, dekat dengan akses publik (stasiun kereta,  taman Soekarni, pasar, dan kantor perintahan Kecamatan).

"Sekarang santri disini kurang lebih dari 500 siswa, yang terdiri dari berbagai daerah nusantara, mulai Batam, Riau, Kalimantan, Madura, Jakarta dan Jawa. Minat masyarakat sangat tinggi untuk mondok, sementara fasilitas disini masih perlu di tingkatkan," paparnya.

Karena pertimbangan kapasitas pondok saat ini, maka mulai tahun ini kita berlakukan indent atau daftar antri. Pada hari ini sudah mencapai lebih 70 calon santri baru yang indent bangku. 

"Untuk memenuhi minat masyarakat saat ini kita juga mulai pembangunan untuk cabang di Kediri, selain terus melakukan peningkatan kapasitas di sini," tandas Kyai yang juga Alumni Yambi'ul Qur'an Kudus Jateng.

Sementara itu menurut santriwati yang berasal dari Desa Ngeni, Kecamatan Panggungrejo yang bernama, Fariska Tsaniatul fataya, mengatakan, dirinya mondok di ponpes ini sudah 2 tahun. Habis dari ponpes ini, Fariska bercita-cita meneruskan sekolahnya di perguruan tinggi atau kuliah.

"Saya sekarang sudah kelas delapan yang artinya sudah 2 tahun dan rencananya sampai 6 tahun," ungkapnya.

Santriwati ini berharap, dengan mondok dirinya menjadi anak yang mengerti agama dan menjadi sholeha. Disamping itu tak kalah penting bisa membahagiakan kedua orang tuanya kelak dikemudian hari.(tn)