Refleksi Satrio Piningit, Antara Penantian dan Eksistensi

Refleksi Satrio Piningit, Antara Penantian dan Eksistensi
illustrasi kedamaian di bumi Nusantara

OPNI - Kemunculannya sering dikaitkan dengan politik, ia adalah sosok yang akan memimpin Nusantara, dan digambarkan sebagai pemimpin yang ada di dalam pemerintahan. Tiap masa, gambaran sosok tersebut mengikuti situasi atau peradaban saat itu, dan tentunya, antara masa satu dengan masa yang lain, berbeda versi.

Padahal, ia adalah "raja tanpa mahkota", dalam artian ia tidak berada dalam lingkaran kekuasaan manapun, seperti Bupati, Gubernur maupun Presiden. Ia tidak pernah dan tidak akan berkuasa di dalam pemerintahan, apalagi sampai merebut kekuasaan. 

Jadi, ia tidak mengontrol atau mengendalikan pemerintahan setingkat apapun, baik kabupaten atau kota, propinsi hingga negara. Namun, ia hanya memimpin manusia Nusantara untuk bangkit dari keterpurukan, di luar lingkaran kekuasaan atau pemerintahan.

Dialah Satrio Piningit, yang selalu dinantikan sebagian orang, dan digadang-gadang bakal muncul, ketika pagebluk "super dahsyat" menghantam atau masa dimana situasi maupun kondisi dirasakan paling suram sepanjang masa. Dari berbagai sudut pandang menyebutkan, dialah sosok yang akan membawa keluar dari keterpurukan atau kemerosotan, menuju tatanan kehidupan yang baik.

Satrio Piningit muncul secara tiba-tiba, bukan "step by step", dan ia muncul tanpa diketahui maupun dikenal sebelumnya, dalam artian rekam jejaknya kabur atau tidak jelas. Selain rekam jejak, riwayat keluarganya juga tidak diketahui, latarbelakangnya apa, dan berasal darimana.

Walaupun eksis di luar kekuasaan atau pemerintahan, ia memiliki daya tarik besar yang mempengaruhi banyak orang untuk mendengarnya.

Senjata adalah perkataannya, bukan peluru, bukan granat, dan bukan rudal. Tidak ada tank, tidak pesawat tempur, serta tidak ada kapal perang dibelakangnya, yang ada hanya kebijakan dan kebajikan, karena ia memimpin secara damai tanpa kekerasan.

Segala perkataannya menjadi penghibur semua manusia, mereka yang berduka akan suka cita, mereka yang sedih akan gembira, mereka yang kekurangan akan dicukupkan, dan mereka terbebani akan diringankan.

Satrio Piningit, sebenarnya sudah ada sebelum kerajaan-kerajaan muncul dan para raja berkuasa di tanah Jawa. Bahkan, sebelum ada manusia hidup di tanah Jawa, dan menurunkan generasi berikutnya, ia sudah terlebih dahulu ada.

Ia bukanlah pemimpin maupun "berbackground" salah satu keyakinan atau agama, namun ia bersandar sepenuhnya pada Yang Maha diatas segalanya yang menguasai alam semesta, karena ia memimpin semua umat tanpa pengecualian, dan tanpa prioritas.

Kemimpinannya tidak berlandaskan pada salah satu keyakinan atau agama, tetapi berkeTuhanan, sehingga apapun keyakinannya, apapun agamanya, bebas mengikuti maupun mendengar perkataannya.

Semua suku tidak ada yang meragukannya untuk memimpin Nusantara, karena ia tidak membawa identitas suku manapun. Saat memimpin, diibaratkan kesejukan puncak Semeru dibawanya, dan sumber air Penanggungan diberikan untuk menghilangkan dahaga.

Kehadirannya tidak ada kaitan apapun dengan situasi politik, karena ia tidak terkorelasi dengan dunia politik. Jadi, jangan berpikir ia akan muncul di tengah percaturan politik maupun ada dalam lingkaran organisasi atau partai politik, apalagi tampil dalam Pilpres atau Pilkada.

Kepentingan tertentu, menjadikan sosok Satrio Piningit dipaksakan mengikuti teori "cocoklogi", seolah-olah dia sudah muncul dan berada di tengah kehidupan dari masa ke masa. Padahal, kemunculannya ibarat pencuri, yang tidak tahu kapan dan darimana datangnya.

Ciri khas khusus dirinya adalah ia beribu tapi tidak berbapak atau tidak jelas identitas bapaknya, tidak menikah apalagi memiliki anak, dan bukan berasal dari keturunan bangsawan. 

Kemerosotan moral mengawali tanda-tanda kemunculannya, keTuhanan dipermainkan oleh segelintir manusia untuk tujuan tertentu, ketika keadilan berada di titik terendah, kemanusiaan diabaikan, kesatuan tercerai berai, dan keserakahan merajalela.

Ia muncul untuk mengembalikan moralitas yang jatuh, sekaligus mengangkatnya. Ketika moralitas kembali ketempat yang sesungguhnya, dan diletakkan di tempat yang terbaik, ia akan menghilang atau pergi, dalam artian berjuang tanpa pamrih.

Satrio Piningit sering diidentifikasikan sosok yang sama dengan Ratu Adil, dan identifikasi itu ada benarnya, walaupun sebenarnya keduanya berbeda. Kepemimpinan Ratu Adil berskala internasional, berbeda dengan Satrio Piningit yang berskala nasional.

Namun, ada figur lain yang masih simpang siur alias tidak jelas kemunculannya, yaitu "sang penipu besar", ia muncul sebelum Satrio Piningit atau sesudahnya. Sang penipu besar inilah yang menyesatkan, karena seolah-olah dialah yang akan menyelamatkan manusia, justru sebaliknya.

Eksistensi sang penipu besar bukan berskala nasional atau satu negara, tapi skala internasional, dalam artian tingkat dunia. Sama dengan Satrio Piningit, sang penipu besar tidak berada dalam lingkaran kekuasaan atau pemerintahan apapun.

Ia mengontrol atau mengendalikan di luar tatanan pemerintahan suatu negara, dan kemunculannya secara tiba-tiba. Sang penipu besar inilah yang mengacaukan tatanan seluruh negara di dunia, dan lawannya adalah Ratu Adil.

Ada banyak literasi dan beragam versi yang memperjelas kata Piningit. Demikian juga penjelasan kata Satrio, ada banyak literasi, beragam versi. Bahkan, penggabungan kedua kata tersebut juga beragam literasi dan versi. 

Kehadiran Satrio Piningit di tengah kehidupan manusia, tidak lantas mengubah secara instant orang miskin jadi kaya, orang sakit jadi sembuh, dan seterusnya. Tetapi membangkitkan kesadaran seutuhnya jati diri manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan paling mulia dari semua makhluk yang ada di permukaan bumi, dalam artian memulihkan moralitas sesungguhnya.

Dari kesadaran itulah, keTuhanan berada pada posisi yang sebenarnya, demikian juga hakekat manusia diciptakan Tuhan untuk berkeadilan, berkemanusiaan, beradab dan bersatu. Kesadaran tersebut, tak ada hubungannya dengan keyakinan atau agama tertentu, karena kesadaran lahir dari diri manusia itu sendiri, yang mengikuti sifat manusia, sebagaimana manusia diciptakan Tuhan.

Jadi, kesadaran akan muncul berdampingan dengan keyakinan atau agama yang dipedomani manusia itu sendiri, dalam artian tanpa mengubah imannya kepada Tuhan. Dengan kesadaran, orang tidak akan korupsi, tidak akan mencuri, tidak akan membunuh dan seterusnya.

Namun, konsep kehadiran Satrio Piningit sering dikolaborasikan dengan kepentingan atau pemikiran tertentu, ujungnya ditafsirkan hal-hal yang bersifat mistis dan berkesan keajaiban, serta terjadi secara instant tanpa proses apapun. Akibatnya, Satrio Piningit dimasukkan dalam lingkungan kekuasaan, agar terkesan memiliki "power" mengendalikan atau mengontrol manusia dan alam. 

Padahal, jelas-jelas Satrio Piningit tak ada hubungannya dengan kekuasaan dilevel manapun, apalagi sampai masuk di lingkaran kekuasaan, karena dia menjalankan aksinya di luar tatanan pemerintahan, tanpa harus bertentangan atau melawan pemerintahan yang berkuasa pada masa itu.

Demikian juga persepsi Satrio Piningit yang diyakini mampu melawan kodrat alam, dan terkesan memiliki "super power". Padahal, ia hanya membangkitkan kesadaran, agar manusia hidup berdampingan dan harmonis dengan alam.

Sebab, alam berada dijalan yang berbeda dengan kodrat manusia, namun keduanya berjalan berdampingan, dalam artian alam akan diperlakukan sebagaimana mestinya oleh manusia, dan alam akan bersahabat dengan manusia.

Sebagian orang percaya eksistensi Satrio Piningit di masa depan, namun sebagian lainnya tidak mempercayai kalau sosok ini benar-benar akan ada, dalam artian dianggap mitos. (dodik)