Sisihkan Langganan Juara Internasional, Robot CDAST FT Universitas Jember Melaju ke Babak Final

Sisihkan Langganan Juara Internasional,  Robot CDAST FT Universitas Jember Melaju ke Babak Final

JEMBER - Pandemi Covid-19 memaksa kita untuk membatasi mobilitas, banyak hal yang dulu bisa dilakukan dengan bebas kini tak bisa lagi dijalankan. Namun pandemi Covid-19 juga memaksa orang untuk kreatif.

Seperti yang dibuktikan oleh Tim Robot CDAST Fakultas Teknik (FT) Universitas Jember yang  ikut dalam ajang Kontes Robot Indonesia (KRI) 2020. Robot CDAST yang turun di kelas Robot Pemadam Api meraih juara dua, sekaligus predikat The Best Design untuk Wilayah II yang meliputi PTN dan PTS di Jawa Tengah hingga Papua. Prestasi ini membuat Tim Robot CDAST melenggang ke babak final Kontes Robot Indonesia 2020 yang akan dihelat bulan November nanti.

“Yang lebih bikin bangga, kami bisa mengalahkan tim yang sudah langganan jadi juara, bahkan pernah juara di tingkat internasional  seperti tim robot Universitas Muhammadiyah Malang. Alhamdulillah kami berada di peringkat kedua sementara mereka yang dijagokan malah ada di peringkat 19,” ungkap Nabil Bachroin, Ketua Tim Robot CDAST FT Universitas Jember kala ditemui di Kampus Tegalboto (15/10/2020). Untuk diketahui ada 40 tim yang berlaga dalam kelas Robot Pemadam Api, dan peringkat pertama hingga keempat otomatis melaju ke babak final.

Nabil mengakui, faktor Covid-19 secara tidak langsung menjadi salah satu faktor keberhasilan timnya melaju hingga final. Pasalnya jika semula robot yang dibikin bertugas memadamkan api, kini tugasnya ditambah dengan menyemprotkan disinfektan. Model rintangan yang diujikan pun makin beragam dan berbeda jauh dengan rintangan tahun lalu sebelum pandemi Covid-19 merebak.  “Akibatnya semua tim mau tidak mau membuat dan memprogramkan ulang robotnya, bahkan menyusun dari nol lagi. Banyak tim yang terlanjur menggunakan basis robot tahun lalu gagal di ajang tahun ini. Jadi ternyata Covid-19 memaksa kami untuk lebih kreatif lagi,” imbuh Nabil sambil tertawa.

Dalam ajang  KRI 2020 kelas Robot Pemadam Api, robot yang dilombakan adalah robot otonom berkaki yang mirip laba-laba. Di sesi pertama, tugas robot menyemprotkan disinfektan di arena tanpa rintangan. Rintangan baru diberikan di sesi kedua dan makin banyak lagi rintangan di sesi ketiga. Jika di sesi pertama dan kedua robot hanya menyemprotkan disinfektan, maka di sesi ketiga tugasnya bertambah dengan memadamkan api. Tugas tambahan menyemprotkan disinfektan ini sesuai dengan kondisi saat ini yang masih di masa pandemi Covid-19. 

“Di sesi pertama robot CDAST kami menempuh waktu 67 detik untuk menyelesaikan tugasnya, sementara di sesi kedua sedikit melambat hingga perlu waktu 102 detik. Namun di sesi ketiga yang memiliki banyak rintangan justru robot CDAST kami ngebut, mencatat waktu 90 detik saja untuk melahap semua rintangan. Sementara batas waktu yang disediakan oleh tim juri bagi setiap robot untuk menyelesaikan tugas dalam satu sesi adalah 300 detik. Jika melebihi 300 detik maka dinyatakan gagal,” jelas Syaffel Sean kepada jurnalis indonesiasatu, anggota tim Robot CDAST FT Universitas Jember.

Mengingat masih dalam kondisi kenormalan baru, maka tiap tim beraksi di kampusnya masing-masing sementara enam anggota tim juri menilai dengan fasilitas zoom. Seleksi KRI 2020 untuk wilayah II digelar tanggal 9 hingga 11 Oktober lalu. Terpilih sebagai juara pertama robot milik Universitas Negeri Surabaya, sementara juara ketiga dibawa pulang robot Politeknik Elektronika Negeri Surabaya.

“Perlu waktu satu tahun untuk merakit robot CDAST, bahkan tiga bulan sebelum lomba kami pilih tidak pulang kampung dan menginap di lokasi base camp UKM Robotika yang ada di kampus jalan Veteran. Satu robot bisa menghabiskan tiga puluh lima jutaan. Tapi pengorbanan kami terbayar lunas dengan raihan juara dua dan The Best Design,” terang Ahmad Sudrajat, salah satu dari tiga punggawa Tim Robot CDAST.

Guna mempersiapkan masuk di babak final, Tim Robot CDAST intensif kini tengah menyempurnakan robot, terutama di kaki-kaki robot sebab satu kaki perlu tiga motor serta penyempurnaan di sistem navigasi yang akan menuntun robot untuk menemukan sasaran. Ada dua dosen yang turun langsung membimbing mereka, yakni Khoirul Anam, PhD., dan Wahyu Muldayani, ST., MT. “Semoga penampilan Robot CDAST kami makin baik di babak final, agar bisa meraih prestasi yang lebih baik. Target kami ingin memperbaiki prestasi sebab prestasi tertinggi tim Robotika FT Universitas Jember menduduki juara harapan empat di ajang KRI tahun 2018 lalu,” kata Nabil didukung penuh dua koleganya. (iim/Siswandi)