Wayang Ruwatan Mbah Gandrung Desa Pagung Kediri Dikenal Masyarakat

Wayang Ruwatan Mbah Gandrung Desa Pagung Kediri Dikenal Masyarakat
Wayang Mbah Gandrung dimasukkan didalam peti kayu diusung dengan berjalan kaki menuju tempat penyimpanan

KEDIRI - Usia Wayang Gandrung sejak 1447 M sampai sekarang mencapai 573 M, seni Wayang Mbah Gandrung  berasal dari masa Kerajaan Majapahit. Keberadaan Wayang Mbah Gandrung masih diyakini masyarakat saat bernazar dan memiliki keinginan bisa terwujud.

Wayang Mbah Gandrung harus diusung dengan berjalan kaki, dari rumah Sanjoko warga Desa Pagung Kecamatan Semen menuju tempat penyimpanan khusus, baik wayang dan peralatan musik.

Ruwatan Wayang Mbah Gandrung yang digelar oleh Sudjoko warga Desa Pagung Kecamatan Semen Kabupaten Kediri, karena Sudjoko pernah nazar atau berujar karena anaknya sembuh dari sakit keras akan menggelar ruwatan Wayang Mbah Gandrung, Selasa (4/8/2020)

Menariknya lagi, Seni Wayang Mbah Gandrung menurut Joko Koentono selaku pemerhati Wayang Gandrung bahwa ritual mistis sebelum dimulai, kotak kayu yang berisi wayang harus diusung dengan jalan kaki dan tidak diperkenankan untuk naik kendaraan bermotor.

Wayang gandrung bagi orang Kediri dan sekitarnya dianggap wayang mistis yang harus dimainkan oleh Dalang Abdul Akad atau Mbah Akad kalau dalam perdalangan merupakan generasi ke-9, gelaran wayang tersebut dilakukan dengan ritual dan sesaji.

Dikatakan Joko Koentono asal Desa Puhsarang bahwa wayang Gandrung ini milik Kediri mulai dikenali masyarakat Kediri dan Blitar yang kental sekali aura mistisnya dan berbagai sesaji lengkap. Masyarakat yang memiliki nadar atau keinginan bisa dipesan, waktunya kapanpun bisa.

"Salah satunya  mempunyai nazar atau keinginan yang diyakini bisa terwujud. Wayang Mbah Gandrung ini merupakan ruwatan untuk kepentingan pribadi yang punya niatan," imbuhnya.

Dijelaskan Joko Koentono bahwa intinya wayang Mbah Gandrung sebagai wayang ruwatan Kediri, bahwa hidup itu cinta sangat penting. Dan didalam cinta dibutuhkan keberduaan.

"Ketika membangun harmoni maka dua-duanya bersenyawa dari persenyawaan lahirlah peradapan dan juga lahirlah keberlangsungan," bebernya. (prijo)